(Oleh : Diki Kusdian,Pimpinan Umum Media Arnewsonline.co.id)
Opini,ARNEWSONLINE.co.id – Dunia jurnalistik Indonesia khususnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat saat ini tengah berada pada persimpangan yang tidak sederhana. Di satu sisi, kebebasan pers semakin terbuka lebar dengan hadirnya media digital yang memungkinkan siapa pun menyampaikan informasi dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kebebasan itu juga melahirkan tantangan besar: munculnya oknum-oknum yang diduga tidak berangkat dari basic atau fondasi jurnalisme, tetapi dengan mudah mengklaim diri sebagai wartawan.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan administratif atau legalitas media. Ini adalah soal marwah profesi.
Jurnalisme Bukan Sekadar Identitas, Tapi Disiplin Nilai
Menjadi wartawan bukan hanya soal memiliki kartu pers, bergabung dalam sebuah media, atau aktif di platform daring. Jurnalisme adalah disiplin berpikir. Ia dibangun di atas prinsip verifikasi, keberimbangan, independensi, dan tanggung jawab sosial. Seorang jurnalis dilatih untuk menahan diri sebelum menyimpulkan, untuk menguji informasi sebelum mempublikasikan, dan untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.
Namun yang terjadi belakangan ini menunjukkan gejala berbeda. Kritik berubah menjadi serangan pribadi. Klarifikasi berubah menjadi propaganda. Perbedaan pendapat berubah menjadi perang terbuka antarsesama insan pers. Bahkan tak jarang muncul narasi yang menjurus pada pembunuhan karakter.
Pertanyaannya: apakah ini lahir dari tradisi jurnalistik yang sehat? Atau justru dari pola pikir yang tidak pernah benar-benar memahami esensi profesi ini?
Jika seseorang tidak dibentuk oleh proses pembelajaran etik jurnalistik, tidak memahami Kode Etik Jurnalistik, dan tidak pernah menjalani disiplin verifikasi yang ketat, maka sangat mungkin ia melihat media hanya sebagai alat bukan sebagai amanah.
Solidaritas Profesi yang Mulai Rapuh
Solidaritas wartawan bukan berarti saling membela tanpa kritik. Solidaritas yang sehat adalah saling mengingatkan,saling menguatkan dalam koridor profesionalisme. Kritik tentu sah dan bahkan perlu. Namun kritik dalam dunia pers harus berbasis data, argumentasi, dan etika,bukan emosi atau kepentingan.
Namun yang lebih mirir, ketika sesama wartawan saling menjatuhkan secara terbuka dengan narasi yang menyerang pribadi, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap institusi pers secara keseluruhan.
Publik tidak memiliki alat untuk memilah mana wartawan profesional dan mana yang hanya menggunakan label. Bagi masyarakat, semua yang mengatasnamakan media adalah bagian dari “pers”. Ketika satu oknum mencederai etika, maka seluruh profesi ikut tercoreng.Inilah yang membuat persoalan ini menjadi serius.
Persaingan Sehat atau Ambisi Personal?
Industri media memang kompetitif. Trafik, eksistensi, dan kecepatan sering kali menjadi ukuran keberhasilan. Namun persaingan yang sehat seharusnya mendorong peningkatan kualitas konten, bukan memperuncing konflik personal.
Jika ada pihak yang menggunakan media untuk menyerang rekan seprofesi tanpa standar verifikasi yang jelas, maka patut dipertanyakan: apakah itu lahir dari semangat jurnalisme? Atau dari ambisi personal yang dibungkus label pers?
Jurnalis sejati memahami bahwa kritik harus proporsional. Ia tahu kapan harus menulis, kapan harus menahan diri, dan kapan harus menyelesaikan persoalan secara profesional, bukan konsumsi publik.
Kembali ke Akar: Etika dan Integritas
Saatnya dunia pers melakukan refleksi mendalam. Organisasi profesi, pimpinan redaksi, dan komunitas media perlu memperkuat pendidikan etika dan mekanisme kontrol internal. Bukan untuk membungkam kebebasan, melainkan untuk menjaga kualitas dan kehormatan profesi.
Setiap wartawan perlu bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah tulisan saya membawa manfaat publik?
Apakah saya sudah menjalankan prinsip verifikasi?
Apakah saya sedang menyampaikan fakta atau sekadar melampiaskan emosi?
Marwah wartawan bukan dibangun dalam sehari. Ia adalah akumulasi dari kepercayaan yang dirawat bertahun-tahun. Sekali ternoda, memperbaikinya tidak mudah.
Rumah Bersama Harus Dijaga
Pers adalah salah satu pilar demokrasi. Ia kuat bukan hanya karena kebebasannya, tetapi karena integritas orang-orang di dalamnya. Jika rumah ini mulai retak karena konflik internal yang tidak sehat, maka yang dirugikan bukan hanya insan pers tetapi masyarakat luas.
Diduga bukan berangkat dari basic jurnalis, sebagian praktik yang terjadi hari ini menjadi alarm keras bagi profesi ini. Solidaritas sedang dipertaruhkan. Dan jika tidak segera disadari, marwah wartawan bisa perlahan kehilangan wibawanya.
Sudah waktunya kita kembali pada akar: jurnalisme yang jujur, berimbang, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi etika. Karena ketika wartawan menjaga kehormatan profesinya, publik akan menjaga kepercayaannya.
Dan tanpa kepercayaan publik, pers hanyalah suara tanpa makna.














Leave a Reply